Jumat, 27 Juli 2018

Laporan Praktikum Farfis 1: Emulsifikasi (STIKES Mandala Waluya Kendari)




LAPORAN FARMASI FISIKA I
EMULSIFIKASI

OLEH :
NAMA : MEGA HASMIRANDA P
NIM     : F201701086





PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2018 









BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
          Sistem emulsi banyak digunakan dalam farmasi. Dapat dibedakan antara cairan, yang ditetapkan untuk pemakaian dalam (emulsi minyak ikan, emulsi parafin) dan emulsi untuk pemakaian  luar yang terakhir ini dinyatakan sebagai linimental (latin linire = menggosok). Liniment adalah emulsi kental (menurut aturanya berjenis M/A). Juga sediaan obat seperti salep dan suppositoria dapat merupakan emulsi dalam pengertian fisika (Depkes RI, 1979).
           Yang menarik dari daya tahan penyimpanan dan teknik pembuatannya adalah emulsi kering dari jenis susu kering. Emulsi sero semacan itu dibuat melalui pengering semprotan. Keunggulannya sebagai bentuk yang dapat bertahan lama atau bentuk yang mudah dan ringan dibawa berpergian serta dapat digunakan baik untuk preparat obat kutan atau per oral, menjadikannya cukup penting. Susu kulit yang sangat penting artinya dalam dermatologi, khususnya dalam kosmetika, merupakan emulsi M/A dengan sifat jenis susu. Emulsi tersebut dapat menjadi pembawa bagai bahan obat larut air atau larut minyak (asam salisilat, resorsinol, belerang, kamfer). (Anief, 2000)
           Oleh karena dari dua cairan yang dapat bercampur satu sama lain, yang satu terdistribusi kedalam yang lain dipertahankan tetap melayang, maka garis tengah tetesan cairan yang terdistribusi sangat penting artinya untuk mengkarakterisasikan sebuah emulsi. Pada umumnya pada emulsi farmasi ukuran partikel terdistribusinya terletak diantara  1 dan 20. Akibat dari pembiasan cahaya komponen emulsi yang berlainan maka preparat yang jenis susu ini menunjukkan sifat tidak tembus cahaya. Hanya dalam kasus khusus, jika kedua cairan menunjukkan indeks bias yang sama maka sinar pada saat melintas melalui emulsi dibiaskan sama kuat, sehingga tampak sinar mampu menembusnya atau transparan. Emulsi mikro juga transparan, yang belakangan ini cukup memberi arti dalam farmasetika. Dalam  preparat ini, ukuran tetesan terdistribusi berada dalam daerah koloid (10-50 hm). (Anief, 2007)
1.2  Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa mampu menghitung jumlah emulgator golongan surfaktan yang digunakan dalam pembuatan emulsi.
2. Mahasiswa mampu membuat emulsi menggunakan emulgator golongan surfaktan.
3. Mahasiswa mampu mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi.
4. Mahasiswa mampu menentukan HLB butuh sebuah sediaan emulsi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Dasar Teori
       Sistem dispersi adalah suatu sistem dimana suatu substansi (fase dispersi) terbagi dalam unit yang berlainan (tersendiri) terdispersi dalam substansi lain (fase kontinyu atau pembawa) (Anief, 2007).
       Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Emulsi adalah system dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil (Syamsuni, 2006).
       Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau bahan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Anief, 1987).
       Emulsi adalah sistem dispersi kasar yang secara termodinamika tidak stabil, terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama lain, dimana cairan yang satu terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan penambahan emulgator. Identitas emulsi berasal dari bahasa latin (emulgere = memerah, yang mengacu kepada susu sebagai jenis emulsi alam)  (Voight, 1994).
       Suatu emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamika yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan sebagai bola-bola dalam dalam fase cair lain, System dibuat stabil dengan adanya suatu zat pengemulsi. Bebagai tipe zat pengemulsi akan dibicarakan kemudian dalam bagian ini, baik fase terdispersi atau fase kontinu bisa berkisar dalam konsistensi dari suatu cairan mobil sampai suatu massa setengah padat (semisolid). Jadi sistem emulsi berkisar dari cairan yang mempunyai viskositas relatif rendah sampai salep atau krim, yang merpakan semisolid. Diameter partikel dari fase terdispersi umumnya berkisar dari 0,1–10 µm, walaupun partikel sekecil 0,01 µm dan sebesar 100 µm bukan tidak biasa dalam beberapa sediaan  (Martin, 2008).
       Emulsi terdiri dari dua fase yang tidak dapat bercampur satu sama lainnya, dimana yang satu menunjukkan karakter hidrofil, yang lain lipofil. Fase hirofil (lipofob) umunya adalah air atau suatu cairan yang dapat bercampur dengan air, sedangkan sebagai fase lipofil (hidrofob) adalah minyak mineral atau minyak tumbuhan atau lemak (minyak lemak, parafin, vaselin, lemak coklat, malam bulu domba) atau juga bahan pelarut lipofil seperti kloroform, benzene dan sebagainya. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, apakah fase hidrofil yang terdispersi kedalam fase hidrofob, ataukah fase hidrofob kedalam fase hidrofil. Dengan demikian dapat dihasilkan dua sistem emulsi yang berbeda, yang dinyatakan sebagai emulsi air dalam minyak (emulsi A/M) atau emulsi minyak dalam air (M/A). pada dasarnya dalam memberi identitas jenis ini A digunakan untuk fase hidrofil dan M untuk fase lipofil. Oleh karena fase lipofil tidak selalu harus M= minyak, tetapi juga bisa beridentitas L = lipida, maka biasa juga dugunakan emulsi L/A  (Voight, 1971).
       Istilah HLB (Hydrophil–lypophil–Balance) diciptakan GRIFFIN untuk tensid bukan ionik. Griffin menyusun setiap tensid kedalam harga bilangan tanpa dimensi, yang dihitung dari perbandingan stokiosmetris bagian lipofil dan bagian hidrofil dan tensid. Dengan demikian harga HLB memberi informasi tentang keseimbangan hidrofil–lipofil, yang dihasilkan dari ukuran atau kekuatan gugus lipofil- hidrofil. Suatu zat lipofil disusun dalam harga HLB yang lebih rendah, zat hidrofil dalam harga yang lebih tinggi. Dari situ diketahui bahwa perbandingan bagian lipofil terhadap bagian hydrophil menjadi lebih menguntungkan dengan memasukkan gugus hydrophil kedalam tensid bukan ionik sehingga dihasilkan tensid dengan HLB yang lebih tinggi. Dengan cara ini emulgator A/M dengan harga HLB tertentu (Voight, 1994).
       Penerapan dibidang farmasi, suatu emulsi O/W merupakan suatu cara pemberian oral yang baik untuk cairan–cairan yang tidak larut dalam air, terutama jika fase terdispersi mempunyai fase yang tidak enak. Yang lebih bermakna dalam farmasi masa kini adalah pengamatan tentang beberapa senyawa yang larut dalam lemak, seperti vitamin, diabsorbsi lebih sempura jika diemulsikan daripada jika diberikan per oral dalam sutau larutan berminyak. Penggunaan emulsi intravena telah diteliti sebagai suatu cara untuk merawat pasien lemah yang tidak menerima obat–obat yang diberikan secara oral. Emulsi radiopeque telah ditemukan untuk penggunaan sebagai zat diasnogtik dalam pengujian sianar X. Emulsifikasi secara luas digunakan dalam produk farmasi dan kosmetik untuk pemakaian luar. Terutama untuk lotion dermatologik dan lotion kosmetik serta krim karena dikehendakinya suatu produk yang menyebar dengan mudah dan sempurna pada areal dimana ia digunakan. Sekarang produk semacam ini dapat diformulasi menjadi dapat tercuci air dan tidak berkarat. Produk seperti itu jelas lebih dapat diterima bagi pasien dan dokter dari pada produk berlemak yang digunakan satu atau beberapa abad yang lalu. Emulsifikasi digunakan dalam produk aerosol untuk menghasilkan busa. Propelan yang membentuk fase cair terdispersi dalam wadah menguap bila emulsi tersebut dikeluarkan dari wadahnya. Ini menghasilkan pembentukann busa  (Martin, 2008).
       Emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami hal–hal seperti dibawah ini:
1.      Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan yaitu satu bagian mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversible, artinya jika dikocok berlahan–lahan akan terdispersi kembali.
2.      Koalesensi dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yamg meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat irrevelsibel (tidak dapat diperbaiki kembali). Hal ini terjadi karena :
a.       Peristiwa kimia : seperti penambahan alcohol, perubahan pH, penambahan elektrolit CaO/ CaCl2 eksikatus.
b.      Peristiwa fisika : seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan, dan pengadukan.
c.       Peristiwa biologis : seperti fermentasi bakteri, jamur, atau ragi.
3.      Infers fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi O/W mejadi W/O secara tiba-tiba atau sebaliknya, sifatnya irreversie  (Syamsuni, 2006).
Perhitugan harga HLB mengguakan rumus sesuai Parrot:
       (a x 15) + (5 - a) x 4,3 = HLB x emulgator
Keterangan:
a = Banyaknya tween yang akan ditimbang.
15 = Ketetapan untuk tween 80.
HLB = Hidro Lypophylic Balance.
Emulgator = Konsentrasi surfaktan atau bahan pengemulsi.
       Untuk membuat suatu emulsi dibutuhkan suatu emulgator, untuk itu adapun pembagian emulgator  menurut (Voigt, 1994):
1.      Emulgator anion  aktif, yaitu emulgator yang terdisosiasi dalam larutan air, Yang berfungsi untuk kerja emulgatornya adalah anion.
2.      Emulgator kation aktif, yaitu emulgator yang terdisosiasi dalam larutan air, Yang berfungsi untuk kerja emulgator adalah kebalikan dari sabun kationnya.
3.      Emulgaor bukan ionic, emulgator ini bereaksi netral, dapat sedikit dipengaruhi oleh elektrolit dan selanjutnya netral terhadap pengaruh kimia dan aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh suhu.
4.      Emulgator amfoter (tensedamfolitik, amfotensid) adalah senyawa kimia, yang memiliki gugus kationik dan anionic didalam molekulnya.
5.      Emulgator kompleks, yaitu dua emulgator berlainan jenis membentuk lapisan tipis dimana masing-masing gugus lipofil dan hidrofil mengarah ke fase minyak dan fase air.
       Adapun cara pembuatan emulsi yaitu sebagai berikut:
1.      Metode gom basah
       Cara ini dilakukan bila zat pengemulsi yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan terlebih dahulu dalam air seperti kuning telur dan metilselulosa. Metode ini dibuat dengan terlebih dahulu dibuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambah minyak sedikit demi sedikit dengan pengadukan yang kuat, kemudian ditambahkan sisa air dan minyak secara bergantian sambil diaduk sampai volume yang diinginkan.


2.      Metode gom kering
       Teknik ini merupakan suatu metode kontinental pada pemakaian zat pengemulsi berupa gom kering. Cara ini diawali dengan membuat korpus emulsi dengan mencampur 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom, lalu digerus sampai terbentuk suatu korpus emulsi, kemudian ditambahkan sisa bahan yang lain sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai terbentuknya suatu emulsi yang baik.
3.      Metode botol atau metode botol forbes
       Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). Serbuk gom dimasukkan kedalam botol kering, ditambahkan 2 bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sedikit demi sedikit sambil dikocok.
2.2  Uraian Bahan
1.      Aquadest (Depkes RI, 1979:96)
Nama resmi
:
AQUA DESTILLATA
Nama lain
:
Air suling
Rm/Bm
:
H2O/18,02
Pemerian
:
Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat/Penggunaan
:
Pelarut/Zat tambahan
2.     Parafin Cair (Depkes RI, 1979:474-475)
Nama resmi
:
PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama lain
:
Parafin cair
Pemerian
:
Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna; hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa.
Kelarutan
:
Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dan dalam eter P.
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Khasiat/Penggunaan
:
Laksativum
3.      Span 80 (Depkes RI, 1995:756)
Nama resmi
:
SORBITAN MONOOLEAT
Nama lain
:
Sorbitan atau Span 80
Sinonim
:
Sorbitan Laurate; Sorbitan Oleate; Sorbitan Palmitate; Sorbitan Stearate; Sorbitan Trioleate; Sorbitan Sesquioleate.
Rm/Bm
:
C3O6H27CL17/1,01
Pemerian
:
Larutan berminyak, tidak berwarna, bau karakteristik dari asam lemak.
Kelarutan
:
Praktis tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan dapat bercampur dengan alkohol sedikit larut dalam minyak biji kapas.
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup rapat.
Khasiat/Penggunaaan
:
Sebagai emulgator dalam fase minyak.
4.      Tween 80 (Depkes RI, 1979:509)
Nama resmi
:
POLYSORBATUM-80
Nama lain
:
Polisorbat-80 atau Tween 80
Pemeriaan
:
Cairan kental seperti minyak; jernih, kuning; bau asam lemak, khas.
Kelarutan
:
Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P, dalam etil asetat P dan dalam metanol P; sukar larut dalam parafin cair P dan dalam minyak biji kapas P.
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup rapat.
Khasiat/Penggunaaan
:
Zat tambahan.



BAB III
METODE KERJA
3.1  Alat dan Bahan
3.1.1   Alat yang digunakan:
1.      Batang pengaduk
2.      Cawan porselen
3.      Corong
4.      Gelas kimia 100 ml
5.      Gelas kimia 250 ml
6.      Gelas ukur 100 ml
7.      Hot plate
8.      Lumpang dan Stamper
9.      Pemanas air
10.  Termometer
11.  Timbangan analitik
12.  Timbangan digital
3.1.2        Bahan yang digunakan:
1.      Aquadest
2.      Parafin cair
3.      Span 80
4.      Tween 80
3.2  Prosedur Kerja
3.2.1        Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB besar
R/ Parafin cair 20%
     Tween 80 5%
     Span 80 5%
     Aquadest ad 100 ml
Bila suatu seri emulsi dengan HLB butuh = 9,10,11,12,13,14 dan 15
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Parafin cair, Span 80, Tween 80, dan aquadest ditimbang dalam cawan porselin sesuai perhitungan untuk membuat emulsi dengan HLB yang diinstruksikan.
3.      Parafin cair dan Span 80 dimasukkan ke dalam gelas kimia. Tween 80 bersama air dimasukkan ke dalam gelas kimia lainnya. Lalu kedua gelas kimia yang berisi campuran tersebut dipanaskan diatas penangas air sampai suhu kedua campuran tersebut mencapai suhu 60o C.
4.      Kemudian kedua gelas kimia diangkat dari penangas dan kedua campuran tersebut dicampurkan dengan menuang fase minyak (parafin cair) kedalam fase air (aquadest) pada suhu yang sama. Sambil diaduk dengan cepat agar diperoleh emulsi yang baik.
5.      Emulsi yang telah jadi dimasukkan ke dalam gelas ukur 50 ml dan ditutup dengan aluminium foil lalu dilakukan pengamatan perubahannya selama 5 hari.
6.      Pengerjaan yang sama dilakukan untuk pembuatan emulsi dengan HLB lainnya sesuai instruksi asisten.
3.2.2        Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB kecil
       Dari hasil percobaan (a) didapat harga HLB butuh yang relatif lebih tepat, maka dibuat suatu seri emulsi lagi dengan jarak masing-masing 0,25 dari harga HLB yang relatif paling stabil tersebut. Setelah itu dilakukan pengerjaan dengan prosedur kerja seperti pada (a).


BAB IV
HASIL PRAKTIKUM


4.1 Hasil Pengamatan

No.
HLB
V0 (volume awal)
Volume Sedimentasi
(cm)
Volume
Pemisahan
Keterangan
1
9
5,6 cm
0
2,4 cm
0
-

5
-
5
-
10
2,6 cm
10
-
Demulsifikasi
15
2,6 cm
15
-

20
2,6 cm
20
-
2
10
5,4 cm
0
1,9 cm
0
-

5
-
5
-
10
2,1 cm
10
-
Demulsifikasi
15
2,2 cm
15
-

20
2,3 cm
20
-
3
11
6,5 cm
0
2 cm
0
-

5
2 cm
5
-
10
2 cm
10
-
Demulsifikasi
15
2 cm
15
-

20
2 cm
20
-
4
12
5 cm
0
2 cm
0
-

5
2,3 cm
5
-
10
2,3 cm
10
-
Demulsifikasi
15
2,3 cm
15
-

20
2,5 cm
20
-
5
13
5,4 cm
0
2,2 cm
0
-

5
2,2 cm
5
-
10
2,4 cm
10
-
Demulsifikasi
15
2,5 cm
15
-

20
2,8 cm
20
-
6
14
5,7 cm
0
1,3 cm
0
-

5
1,3 cm
5
-
10
15
2,9 cm
3,5 cm
10
15
-
-
Demulsifikasi
20
3,6 cm
20
-

7
15
5,7 cm
0
3,8 cm
0
-

5
4 cm
5
-
10
4,1 cm
10
-
Demulsifikasi
15
4,1 cm
15
-
20
4,1 cm
20
-












4.2  Perhitungan
1.      HLB 9, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 9 x 5
               15 a – 4,3 a = 45 – 21,5
                        10,7 a = 23,5
                                a = 23,5/10,7
                                   = 2,19 = 2,2 gram (tween)
                          Span = (5 – a)
                                   = 5-2,2 gram = 2,8 gram

                    Parafin =20/100x100


                                    = 20 gram
                  Aquadest   = 100 – (2,2 g + 2,8 g + 20 g)
                                    = 75 ml
2.      HLB 10, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 10 x 5
               15 a – 4,3 a = 50 – 21,5
                        10,7 a = 28,5
                                a = 28,5/10,7
                                   = 2,66 = 2,6 gram (tween)
                          Span = (5 – a)
                                   = 5-2,6 gram = 2,4 gram
                                Parafin = 20/100x100
                                 = 20 gram
                            Aquadest  = 100 – (2,6 g + 2,4 g + 20 g)
                                 = 75 ml
3.      HLB 11, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 11 x 5
               15 a – 4,3 a = 55 – 21,5
                        10,7 a = 33,5
                                a = 33,5/10,7
                                   = 3,13 = 3,1 gram (tween)
                                      Span = (5 – a)
                                               = 5 - 3,1 gram = 1,9 gram
                                  Parafin = 20/100x100
                                   = 20 gram
                 Aquadest   = 100 – (3,1 g + 1,9 g + 20 g)
                                   = 75 ml
4.      HLB 12, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 12 x 5
               15 a – 4,3 a = 60 – 21,5
                        10,7 a = 38,5
                                a = 38,5/10,7
                                   = 3,5 = 3,6 gram (tween)
                                      Span = (5 – a)
                                              = 5 - 3,6 gram = 1,4 gram
                  Parafin = 20/100x100
                                = 20 gram
                          Aquadest   = 100 – (3,6 g + 1,4 g + 20 g)
                                = 75 ml
5.      HLB 13, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 13 x 5
               15 a – 4,3 a = 65 – 21,5
                        10,7 a = 43,5
                                a = 43,5/10,7
                                   = 4,06 = 4,1 gram (tween)
                                      Span = (5 – a)
                                               = 5 – 4,1 gram = 0,9 gram
                       Parafin = 20/100x100
                                    = 20 gram
                  Aquadest   = 100 – (4,1 g + 0,9 g + 20 g)
                                    = 75 ml
6.      HLB 14, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 14 x 5
               15 a – 4,3 a = 70 – 21,5
                        10,7 a = 48,5
                                a = 48,5/10,7
                                               = 4,53 = 4,5 gram (tween)
                                      Span = (5 – a)
                                               = 5 – 4,5 gram = 0,5 gram
                      Parafin = 20/100x100
                                   = 20 gram
                  Aquadest   = 100 – (4,5 g + 0,5 g + 20 g)
                                    = 75 ml
7.      HLB 15, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 15 x 5
               15 a – 4,3 a = 75 – 21,5
                        10,7 a = 53,5
                                a = 53,5/10,7
                                   = 5 = 5 gram (tween)
                          Span = (5 – a)
                                   = 5 - 5 gram = 0 gram
                        Parafin = 20/100x100
                                    = 20 gram
                  Aquadest   = 100 – (5 g + 0 g + 20 g)
                                    = 75 ml



BAB V
PEMBAHASAN
            Menurut Dirjen POM, 1979. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan tentang pembuatan emulsi (emulsifikasi) menggunakan parafin cair dan span 80 sebagai fase minyak, serta aquades dan tween 80 sebagai fase air.
            Di dalam emulsi untuk mencampurkan dua fase yang tidak saling bercampur dapat digunakan emulgator yang berfungsi untuk menstabilkan fase air dan minyak yang tidak saling bercampur tersebut (Ansel, 2007). Emulgator yamg digunakan pada praktikum ini adalah tween 80 dan span 80, untuk menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dan fase air, dengan memperbaharui ukuran partikel yang besar dan berukuran seragam sehingga dapat bercampur saat melakukan pengadukkan (Jufri, 2004).
            Langkah pertama dalam praktikum ini adalah membuat emulsi dengan HLB butuh masing-masing 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15. Kemudian dihitung jumlah tween 80, span 80, aquades dan paraffin yang dibutuhkan masing-masing HLB butuh yaitu aquades (HLB 9, 10, 11, 12, 13,14, dan 15 semua menggunakan aquades sebanyak 75 ml). Parafin cair 20 gram, tween 80 (untuk HLB 9 = 22 gram, HLB 10 = 2,6 gram, HLB 11 = 3 gram, HLB 12 = 4 gram, HLB 13 = 4 gram, HLB 14 = 4,5 gram dan HLB 15 = 5 gram). Span 80 (untuk HLB 9 = 2,8 gram, HLB 10 = 2,4 gram, HLB 11 = 2 gram, HLB 12 = 1 gram, HLB 13 = 1 gram, HLB 14 = 0,5 gram dan HLB 15 = 0).
            Langkah selanjutnya ditimbang bahan dan dilarutkan masing-masing bahan. Pada fase yang sama, tween dilarutkan dalam air sebagai fase air dan span 80 dilarutkan ke dalam minyak sebagai fase minyak. Hal ini disebabkan karena tween 80 memiliki HLB 15,6 dan span 80 memiliki HLB 4,3. Semakin tinggi harga HLB maka semakin polar atau hidrofolik sediaan itu sebaliknya semakin rendah harga HLB maka semakin nonpolar atau hidrofolik sediaan tersebut. Sehinggan tween 80 larut dalam air dan span larut dalam minyak (Ansel, 2010).
            Setelah itu dicampurkan kedua fase yaitu fase minyak dan fase air kedalam gelas kimia dan dipanaskan diatas penangas air sampai kedua larutan mendidih. Setelah mendidih kedua larutan dimasukkan kedalam mortir secara bersamaan lalu digerus dengan cepat selama kurang lebih 5 menit, hal ini bertujuaan untuk menghomogenkan antara fase minyak dan fase air (Jufri, 2004).
            Pengamatan emulsi dilakukan selama 20 menit, tujuannya untuk melihat pemisah antara fase air dan minyak, dan perubahan volume emulsi. Dari hasil pengamatan selama pada masing-masing emulsi dengan HLB butuh 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 terjadi perubahan volume awal, volume sedimentasi, namun tidak terdapat volume pemisah.
Berdasarkan literatur dapat diketahui bahwa HLB yang paling stabil dalam pembuatan emulsi yaitu HLB 12. Namun, hal ini tidak sesuai dengan hasil percobaan dimana dalam percobaan emulsi yang stabil yaitu emulsi dengan HLB 11. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terjadi ketidak stabilan emulsi, pada percobaan ini ketidakstabilan emulsi yang terjadi dalam percobaan ini yaitu demulsifikasi. Demulsifikasi adalah proses lebih lanjut dari koalesen dimana kedua fase terpisah kembali menjadi dua cairan yang tidak saling tercampur.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak stabilan dari emulsi diantaranya adalah : (Jufri, 2004)
·   Suhu pemanasan tidak konstan.
·   Perbedaan intensitas pengaduk.
·   Pencampuran kurang merata.
·   Kekompakan dan elastisitas film yang melindungi zat terdispersi.
·   Ketidak telitian dalam pengamatan kestabilan emulsi.
·   Suhu yang tidak sama dari kedua fase ketika dicampur, dimana kenaikan temperatur. dapat mengurangi ketengangan antara muatan dan viskositasnya.

BAB VI
PENUTUP
6.1  Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat disimpulkan:
1.      Pada percobaan ini untuk fase air  digunakan tween 80 dan aquadest. Sedangkan, untuk fase minyak yaitu span 80 dan paraffin.
2.      Setelah dibandingkan hasil pengamatan dengan literatur terdapat perbedaan pada literatur emulsi yang stabil yaitu HLB 12. Sedangkan, pada percobaan yaitu HLB 11.
3.      Pada percobaan emulsi terjadi fenomena ketidakstabilan dalam emulsi yaitu fenomena demulsifikasi.
6.2  Saran
       Para praktikan harus berhati–hati dan teliti dalam proses praktikum untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.


DAFTAR  PUSTAKA
Anief, Moh. 1992 . Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Prees
Anief, Moh. 1987. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : gadjah Mada university
       Press.
Dirgen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.
Jufri, M. 2004. Formulasi Grameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi. Departemem
 Farmasi FMIPA-UI. Depok.
Martin, Alfred dkk. 2008. Farmasi Fisik Jilid 2. Jakarta : UI Press.
Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Voight, R. 1971. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gadjah Mada
    University Press.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar