LAPORAN
FARMASI FISIKA I
EMULSIFIKASI
OLEH :
NAMA : MEGA HASMIRANDA P
NIM : F201701086
PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem emulsi banyak digunakan
dalam farmasi. Dapat dibedakan antara cairan, yang ditetapkan untuk pemakaian
dalam (emulsi minyak ikan, emulsi parafin) dan emulsi untuk pemakaian
luar yang terakhir ini dinyatakan sebagai linimental (latin linire = menggosok).
Liniment adalah emulsi kental (menurut aturanya berjenis M/A). Juga sediaan
obat seperti salep dan suppositoria dapat merupakan emulsi dalam pengertian
fisika (Depkes RI, 1979).
Yang menarik
dari daya tahan penyimpanan dan teknik pembuatannya adalah emulsi kering dari
jenis susu kering. Emulsi sero semacan itu dibuat melalui pengering semprotan.
Keunggulannya sebagai bentuk yang dapat bertahan lama atau bentuk yang mudah
dan ringan dibawa berpergian serta dapat digunakan baik untuk preparat obat
kutan atau per oral, menjadikannya cukup penting. Susu kulit yang sangat
penting artinya dalam dermatologi, khususnya dalam kosmetika, merupakan emulsi
M/A dengan sifat jenis susu. Emulsi tersebut dapat menjadi pembawa bagai bahan
obat larut air atau larut minyak (asam salisilat, resorsinol, belerang, kamfer).
(Anief, 2000)
Oleh
karena dari dua cairan yang dapat bercampur satu sama lain, yang satu
terdistribusi kedalam yang lain dipertahankan tetap melayang, maka garis tengah
tetesan cairan yang terdistribusi sangat penting artinya untuk
mengkarakterisasikan sebuah emulsi. Pada umumnya pada emulsi farmasi ukuran
partikel terdistribusinya terletak diantara 1 dan 20. Akibat dari
pembiasan cahaya komponen emulsi yang berlainan maka preparat yang jenis susu
ini menunjukkan sifat tidak tembus cahaya. Hanya dalam kasus khusus, jika kedua
cairan menunjukkan indeks bias yang sama maka sinar pada saat melintas melalui
emulsi dibiaskan sama kuat, sehingga tampak sinar mampu menembusnya atau
transparan. Emulsi mikro juga transparan, yang belakangan ini cukup memberi
arti dalam farmasetika. Dalam preparat ini, ukuran tetesan terdistribusi
berada dalam daerah koloid (10-50 hm). (Anief, 2007)
1.2 Tujuan Percobaan
1.
Mahasiswa mampu menghitung jumlah emulgator golongan surfaktan yang
digunakan dalam pembuatan emulsi.
2.
Mahasiswa mampu membuat emulsi menggunakan emulgator golongan
surfaktan.
3.
Mahasiswa mampu mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi.
4.
Mahasiswa mampu menentukan HLB butuh sebuah sediaan emulsi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Sistem dispersi adalah
suatu sistem dimana suatu substansi (fase dispersi) terbagi dalam unit yang
berlainan (tersendiri) terdispersi dalam substansi lain (fase kontinyu atau
pembawa) (Anief, 2007).
Menurut Farmakope
Indonesia Edisi IV, Emulsi adalah system dua fase yang salah satu cairannya
terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil (Syamsuni, 2006).
Emulsi adalah sediaan yang
mengandung bahan obat cair atau bahan obat, terdispersi dalam cairan pembawa,
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Anief, 1987).
Emulsi adalah sistem
dispersi kasar yang secara termodinamika tidak stabil, terdiri dari minimal dua
atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama lain, dimana cairan yang satu
terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan
penambahan emulgator. Identitas emulsi berasal dari bahasa latin (emulgere =
memerah, yang mengacu kepada susu sebagai jenis emulsi alam) (Voight,
1994).
Suatu emulsi adalah suatu
sistem yang tidak stabil secara termodinamika yang mengandung paling sedikit
dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan
sebagai bola-bola dalam dalam fase cair lain, System dibuat stabil dengan
adanya suatu zat pengemulsi. Bebagai tipe zat pengemulsi akan dibicarakan
kemudian dalam bagian ini, baik fase terdispersi atau fase kontinu bisa
berkisar dalam konsistensi dari suatu cairan mobil sampai suatu massa setengah
padat (semisolid). Jadi sistem emulsi berkisar dari cairan yang mempunyai
viskositas relatif rendah sampai salep atau krim, yang merpakan semisolid.
Diameter partikel dari fase terdispersi umumnya berkisar dari 0,1–10 µm,
walaupun partikel sekecil 0,01 µm dan sebesar 100 µm bukan tidak biasa dalam
beberapa sediaan (Martin, 2008).
Emulsi terdiri dari dua
fase yang tidak dapat bercampur satu sama lainnya, dimana yang satu menunjukkan
karakter hidrofil, yang lain lipofil. Fase hirofil (lipofob) umunya adalah air
atau suatu cairan yang dapat bercampur dengan air, sedangkan sebagai fase
lipofil (hidrofob) adalah minyak mineral atau minyak tumbuhan atau lemak
(minyak lemak, parafin, vaselin, lemak coklat, malam bulu domba) atau juga bahan
pelarut lipofil seperti kloroform, benzene dan sebagainya. Ada dua kemungkinan
yang dapat terjadi, apakah fase hidrofil yang terdispersi kedalam fase
hidrofob, ataukah fase hidrofob kedalam fase hidrofil. Dengan demikian dapat
dihasilkan dua sistem emulsi yang berbeda, yang dinyatakan sebagai emulsi air
dalam minyak (emulsi A/M) atau emulsi minyak dalam air (M/A). pada dasarnya
dalam memberi identitas jenis ini A digunakan untuk fase hidrofil dan M untuk
fase lipofil. Oleh karena fase lipofil tidak selalu harus M= minyak, tetapi
juga bisa beridentitas L = lipida, maka biasa juga dugunakan emulsi L/A
(Voight, 1971).
Istilah HLB
(Hydrophil–lypophil–Balance) diciptakan GRIFFIN untuk tensid bukan ionik.
Griffin menyusun setiap tensid kedalam harga bilangan tanpa dimensi, yang
dihitung dari perbandingan stokiosmetris bagian lipofil dan bagian hidrofil dan
tensid. Dengan demikian harga HLB memberi informasi tentang keseimbangan
hidrofil–lipofil, yang dihasilkan dari ukuran atau kekuatan gugus lipofil- hidrofil.
Suatu zat lipofil disusun dalam harga HLB yang lebih rendah, zat hidrofil dalam
harga yang lebih tinggi. Dari situ diketahui bahwa perbandingan bagian lipofil
terhadap bagian hydrophil menjadi lebih menguntungkan dengan memasukkan gugus
hydrophil kedalam tensid bukan ionik sehingga dihasilkan tensid dengan HLB yang
lebih tinggi. Dengan cara ini emulgator A/M dengan harga HLB tertentu (Voight,
1994).
Penerapan dibidang
farmasi, suatu emulsi O/W merupakan suatu cara pemberian oral yang baik untuk
cairan–cairan yang tidak larut dalam air, terutama jika fase terdispersi
mempunyai fase yang tidak enak. Yang lebih bermakna dalam farmasi masa kini
adalah pengamatan tentang beberapa senyawa yang larut dalam lemak, seperti
vitamin, diabsorbsi lebih sempura jika diemulsikan daripada jika diberikan per
oral dalam sutau larutan berminyak. Penggunaan emulsi intravena telah diteliti
sebagai suatu cara untuk merawat pasien lemah yang tidak menerima obat–obat
yang diberikan secara oral. Emulsi radiopeque telah ditemukan untuk penggunaan
sebagai zat diasnogtik dalam pengujian sianar X. Emulsifikasi secara luas
digunakan dalam produk farmasi dan kosmetik untuk pemakaian luar. Terutama
untuk lotion dermatologik dan lotion kosmetik serta krim karena dikehendakinya
suatu produk yang menyebar dengan mudah dan sempurna pada areal dimana ia
digunakan. Sekarang produk semacam ini dapat diformulasi menjadi dapat tercuci
air dan tidak berkarat. Produk seperti itu jelas lebih dapat diterima bagi
pasien dan dokter dari pada produk berlemak yang digunakan satu atau beberapa
abad yang lalu. Emulsifikasi digunakan dalam produk aerosol untuk menghasilkan
busa. Propelan yang membentuk fase cair terdispersi dalam wadah menguap bila
emulsi tersebut dikeluarkan dari wadahnya. Ini menghasilkan pembentukann busa
(Martin, 2008).
Emulsi dikatakan tidak
stabil jika mengalami hal–hal seperti dibawah ini:
1.
Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan yaitu satu bagian
mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming
bersifat reversible, artinya jika dikocok berlahan–lahan akan terdispersi
kembali.
2.
Koalesensi dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film
yamg meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu
menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat irrevelsibel (tidak
dapat diperbaiki kembali). Hal ini terjadi karena :
a. Peristiwa kimia : seperti
penambahan alcohol, perubahan pH, penambahan elektrolit CaO/ CaCl2
eksikatus.
b. Peristiwa fisika : seperti
pemanasan, penyaringan, pendinginan, dan pengadukan.
c. Peristiwa biologis : seperti
fermentasi bakteri, jamur, atau ragi.
3.
Infers fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi O/W mejadi W/O
secara tiba-tiba atau sebaliknya, sifatnya irreversie (Syamsuni, 2006).
Perhitugan harga HLB mengguakan rumus sesuai Parrot:
(a x 15) +
(5 - a) x 4,3 = HLB x emulgator
Keterangan:
a = Banyaknya tween yang akan ditimbang.
15 = Ketetapan untuk tween 80.
HLB = Hidro Lypophylic Balance.
Emulgator = Konsentrasi surfaktan atau bahan pengemulsi.
Untuk membuat suatu emulsi dibutuhkan
suatu emulgator, untuk itu adapun pembagian emulgator menurut (Voigt,
1994):
1.
Emulgator anion aktif, yaitu emulgator yang terdisosiasi dalam
larutan air, Yang berfungsi untuk kerja emulgatornya adalah anion.
2.
Emulgator kation aktif, yaitu emulgator yang terdisosiasi dalam larutan
air, Yang berfungsi untuk kerja emulgator adalah kebalikan dari sabun kationnya.
3.
Emulgaor bukan ionic, emulgator ini bereaksi netral, dapat sedikit
dipengaruhi oleh elektrolit dan selanjutnya netral terhadap pengaruh kimia dan
aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh suhu.
4.
Emulgator amfoter (tensedamfolitik, amfotensid) adalah senyawa kimia,
yang memiliki gugus kationik dan anionic didalam molekulnya.
5.
Emulgator kompleks, yaitu dua emulgator berlainan jenis membentuk
lapisan tipis dimana masing-masing gugus lipofil dan hidrofil mengarah ke fase
minyak dan fase air.
Adapun cara
pembuatan emulsi yaitu sebagai berikut:
1.
Metode gom basah
Cara ini
dilakukan bila zat pengemulsi yang akan dipakai berupa cairan atau harus
dilarutkan terlebih dahulu dalam air seperti kuning telur dan metilselulosa.
Metode ini dibuat dengan terlebih dahulu dibuat mucilago yang kental dengan
sedikit air lalu ditambah minyak sedikit demi sedikit dengan pengadukan yang
kuat, kemudian ditambahkan sisa air dan minyak secara bergantian sambil diaduk
sampai volume yang diinginkan.
2.
Metode gom kering
Teknik ini merupakan suatu metode kontinental
pada pemakaian zat pengemulsi berupa gom kering. Cara ini diawali dengan
membuat korpus emulsi dengan mencampur 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1
bagian gom, lalu digerus sampai terbentuk suatu korpus emulsi, kemudian
ditambahkan sisa bahan yang lain sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai
terbentuknya suatu emulsi yang baik.
3.
Metode botol atau metode botol forbes
Digunakan
untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas
rendah (kurang kental). Serbuk gom dimasukkan kedalam botol kering, ditambahkan
2 bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat.
Tambahkan sedikit demi sedikit sambil dikocok.
2.2 Uraian Bahan
1. Aquadest (Depkes RI, 1979:96)
Nama resmi
|
:
|
AQUA
DESTILLATA
|
Nama lain
|
:
|
Air suling
|
Rm/Bm
|
:
|
H2O/18,02
|
Pemerian
|
:
|
Cairan
jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa.
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup baik.
|
Khasiat/Penggunaan
|
:
|
Pelarut/Zat
tambahan
|
2. Parafin Cair (Depkes RI, 1979:474-475)
Nama resmi
|
:
|
PARAFFINUM
LIQUIDUM
|
Nama lain
|
:
|
Parafin cair
|
Pemerian
|
:
|
Cairan
kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna; hampir tidak
berbau; hampir tidak mempunyai rasa.
|
Kelarutan
|
:
|
Praktis
tidak larut dalam air dan dalam etanol
(95%) P; larut dalam kloroform P;
dan dalam eter P.
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup baik, terlindung dari cahaya.
|
Khasiat/Penggunaan
|
:
|
Laksativum
|
3.
Span 80 (Depkes RI, 1995:756)
Nama resmi
|
:
|
SORBITAN
MONOOLEAT
|
Nama lain
|
:
|
Sorbitan
atau Span 80
|
Sinonim
|
:
|
Sorbitan
Laurate; Sorbitan Oleate; Sorbitan Palmitate; Sorbitan Stearate; Sorbitan
Trioleate; Sorbitan Sesquioleate.
|
Rm/Bm
|
:
|
C3O6H27CL17/1,01
|
Pemerian
|
:
|
Larutan
berminyak, tidak berwarna, bau karakteristik dari asam lemak.
|
Kelarutan
|
:
|
Praktis
tidak larut tetapi terdispersi dalam air dan dapat bercampur dengan alkohol
sedikit larut dalam minyak biji kapas.
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup rapat.
|
Khasiat/Penggunaaan
|
:
|
Sebagai
emulgator dalam fase minyak.
|
4.
Tween 80 (Depkes RI, 1979:509)
Nama resmi
|
:
|
POLYSORBATUM-80
|
Nama lain
|
:
|
Polisorbat-80
atau Tween 80
|
Pemeriaan
|
:
|
Cairan
kental seperti minyak; jernih, kuning; bau asam lemak, khas.
|
Kelarutan
|
:
|
Mudah larut
dalam air, dalam etanol (95%) P,
dalam etil asetat P dan dalam metanol P; sukar larut dalam parafin cair P dan dalam minyak biji kapas P.
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup rapat.
|
Khasiat/Penggunaaan
|
:
|
Zat
tambahan.
|
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1
Alat yang
digunakan:
1.
Batang pengaduk
2.
Cawan porselen
3.
Corong
4.
Gelas kimia 100 ml
5.
Gelas kimia 250 ml
6.
Gelas ukur 100 ml
7.
Hot plate
8.
Lumpang dan Stamper
9.
Pemanas air
10.
Termometer
11.
Timbangan analitik
12.
Timbangan digital
3.1.2
Bahan yang
digunakan:
1.
Aquadest
2.
Parafin cair
3.
Span 80
4.
Tween 80
3.2 Prosedur Kerja
3.2.1
Penentuan HLB
butuh minyak dengan jarak HLB besar
R/ Parafin cair 20%
Tween 80 5%
Span 80 5%
Aquadest ad
100 ml
Bila suatu seri emulsi dengan HLB butuh =
9,10,11,12,13,14 dan 15
1.
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.
Parafin cair, Span 80, Tween 80, dan aquadest ditimbang dalam cawan
porselin sesuai perhitungan untuk membuat emulsi dengan HLB yang
diinstruksikan.
3.
Parafin cair dan Span 80 dimasukkan ke dalam gelas kimia. Tween 80
bersama air dimasukkan ke dalam gelas kimia lainnya. Lalu kedua gelas kimia
yang berisi campuran tersebut dipanaskan diatas penangas air sampai suhu kedua
campuran tersebut mencapai suhu 60o C.
4.
Kemudian kedua gelas kimia diangkat dari penangas dan kedua campuran
tersebut dicampurkan dengan menuang fase minyak (parafin cair) kedalam fase air
(aquadest) pada suhu yang sama. Sambil diaduk dengan cepat agar diperoleh
emulsi yang baik.
5.
Emulsi yang telah jadi dimasukkan ke dalam gelas ukur 50 ml dan ditutup
dengan aluminium foil lalu dilakukan pengamatan perubahannya selama 5 hari.
6.
Pengerjaan yang sama dilakukan untuk pembuatan emulsi dengan HLB
lainnya sesuai instruksi asisten.
3.2.2
Penentuan HLB
butuh minyak dengan jarak HLB kecil
Dari hasil percobaan (a) didapat harga HLB butuh yang
relatif lebih tepat, maka dibuat suatu seri emulsi lagi dengan jarak
masing-masing 0,25 dari harga HLB yang relatif paling stabil tersebut. Setelah
itu dilakukan pengerjaan dengan prosedur kerja seperti pada (a).
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM
4.1 Hasil Pengamatan
No.
|
HLB
|
V0 (volume awal)
|
Volume
Sedimentasi
(cm)
|
Volume
Pemisahan
|
Keterangan
|
|||||
1
|
9
|
5,6 cm
|
0
|
2,4 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
-
|
5
|
-
|
|||||||
10
|
2,6 cm
|
10
|
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
15
|
2,6 cm
|
15
|
-
|
|||||||
20
|
2,6 cm
|
20
|
-
|
|||||||
2
|
10
|
5,4 cm
|
0
|
1,9 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
-
|
5
|
-
|
|||||||
10
|
2,1 cm
|
10
|
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
15
|
2,2 cm
|
15
|
-
|
|||||||
20
|
2,3 cm
|
20
|
-
|
|||||||
3
|
11
|
6,5 cm
|
0
|
2 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
2 cm
|
5
|
-
|
|||||||
10
|
2 cm
|
10
|
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
15
|
2 cm
|
15
|
-
|
|||||||
20
|
2 cm
|
20
|
-
|
|||||||
4
|
12
|
5 cm
|
0
|
2 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
2,3 cm
|
5
|
-
|
|||||||
10
|
2,3 cm
|
10
|
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
15
|
2,3 cm
|
15
|
-
|
|||||||
20
|
2,5 cm
|
20
|
-
|
|||||||
5
|
13
|
5,4 cm
|
0
|
2,2 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
2,2 cm
|
5
|
-
|
|||||||
10
|
2,4 cm
|
10
|
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
15
|
2,5 cm
|
15
|
-
|
|||||||
20
|
2,8 cm
|
20
|
-
|
|||||||
6
|
14
|
5,7 cm
|
0
|
1,3 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
1,3 cm
|
5
|
-
|
|||||||
10
15
|
2,9 cm
3,5 cm
|
10
15
|
-
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
20
|
3,6 cm
|
20
|
-
|
|||||||
7
|
15
|
5,7 cm
|
0
|
3,8 cm
|
0
|
-
|
||||
5
|
4 cm
|
5
|
-
|
|||||||
10
|
4,1 cm
|
10
|
-
|
Demulsifikasi
|
||||||
15
|
4,1 cm
|
15
|
-
|
|||||||
20
|
4,1 cm
|
20
|
-
|
|||||||
4.2 Perhitungan
1. HLB 9, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 9 x 5
15
a – 4,3 a = 45 – 21,5
10,7 a = 23,5
a = 23,5/10,7
= 2,19 = 2,2 gram (tween)
Span = (5 – a)
= 5-2,2 gram = 2,8 gram
Parafin =20/100x100
=
20 gram
Aquadest
= 100 – (2,2 g + 2,8 g + 20 g)
=
75 ml
2. HLB 10, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x
Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 10 x 5
15 a – 4,3 a = 50 – 21,5
10,7 a = 28,5
a
= 28,5/10,7
= 2,66 = 2,6 gram (tween)
Span
= (5 – a)
= 5-2,6 gram = 2,4 gram
Parafin = 20/100x100
= 20 gram
Aquadest
= 100 – (2,6 g + 2,4 g + 20 g)
= 75 ml
3. HLB 11, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x
Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 11 x 5
15 a – 4,3 a = 55 – 21,5
10,7 a = 33,5
a
= 33,5/10,7
= 3,13 = 3,1 gram
(tween)
Span = (5 – a)
= 5 - 3,1 gram = 1,9 gram
Parafin = 20/100x100
= 20 gram
Aquadest = 100 – (3,1 g + 1,9 g + 20 g)
= 75 ml
4. HLB 12, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x
Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 12 x 5
15 a – 4,3 a = 60 – 21,5
10,7 a = 38,5
a
= 38,5/10,7
= 3,5 = 3,6 gram (tween)
Span = (5 – a)
= 5 - 3,6 gram = 1,4 gram
Parafin = 20/100x100
= 20 gram
Aquadest = 100 – (3,6 g + 1,4 g + 20 g)
= 75 ml
5. HLB 13, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x
Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 13 x 5
15 a – 4,3 a = 65 – 21,5
10,7 a = 43,5
a = 43,5/10,7
= 4,06 = 4,1 gram
(tween)
Span = (5 – a)
= 5 – 4,1 gram = 0,9 gram
Parafin = 20/100x100
=
20 gram
Aquadest
= 100 – (4,1 g + 0,9 g + 20 g)
=
75 ml
6. HLB 14, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 14 x 5
15 a – 4,3 a = 70 – 21,5
10,7 a = 48,5
a
= 48,5/10,7
= 4,53 = 4,5 gram
(tween)
Span = (5 – a)
= 5 – 4,5 gram = 0,5 gram
Parafin = 20/100x100
= 20 gram
Aquadest
= 100 – (4,5 g + 0,5 g + 20 g)
=
75 ml
7. HLB 15, Emulgator 5
(a x 15) + (5-a) x 4,3 = HLB x Emulgator
(15 a ) + 21,5 – 4,3 a = 15 x 5
15 a – 4,3 a = 75 – 21,5
10,7 a = 53,5
a
= 53,5/10,7
= 5 = 5 gram (tween)
Span = (5 – a)
= 5 - 5 gram = 0 gram
Parafin = 20/100x100
=
20 gram
Aquadest
= 100 – (5 g + 0 g + 20 g)
=
75 ml
BAB
V
PEMBAHASAN
Menurut
Dirjen POM, 1979. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Pada praktikum kali ini dilakukan
percobaan tentang pembuatan emulsi (emulsifikasi) menggunakan parafin cair dan
span 80 sebagai fase minyak, serta aquades dan tween 80 sebagai fase air.
Di dalam emulsi untuk mencampurkan dua fase yang tidak saling bercampur
dapat digunakan emulgator yang berfungsi untuk menstabilkan fase air dan minyak
yang tidak saling bercampur tersebut (Ansel, 2007). Emulgator yamg digunakan
pada praktikum ini adalah tween 80 dan span 80, untuk menurunkan tegangan
permukaan antara fase minyak dan fase air, dengan memperbaharui ukuran partikel
yang besar dan berukuran seragam sehingga dapat bercampur saat melakukan
pengadukkan (Jufri, 2004).
Langkah
pertama dalam praktikum ini adalah membuat emulsi dengan HLB butuh masing-masing
9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15. Kemudian dihitung jumlah tween 80, span 80,
aquades dan paraffin yang dibutuhkan masing-masing HLB butuh yaitu aquades (HLB
9, 10,
11, 12, 13,14,
dan 15 semua menggunakan aquades sebanyak 75 ml). Parafin cair 20 gram, tween
80 (untuk HLB 9 = 22 gram, HLB 10 = 2,6 gram, HLB 11 = 3 gram, HLB 12 = 4 gram,
HLB 13 = 4 gram, HLB 14 = 4,5 gram dan HLB 15 = 5 gram). Span 80 (untuk HLB 9 =
2,8 gram, HLB 10 = 2,4 gram, HLB 11 = 2 gram, HLB 12 = 1 gram, HLB 13 = 1 gram,
HLB 14 = 0,5 gram dan HLB 15 = 0).
Langkah
selanjutnya ditimbang bahan dan dilarutkan masing-masing bahan. Pada fase yang
sama, tween dilarutkan dalam air sebagai fase air dan span 80 dilarutkan ke
dalam minyak sebagai fase minyak. Hal ini disebabkan karena tween 80 memiliki
HLB 15,6 dan span 80 memiliki HLB 4,3. Semakin tinggi harga HLB maka semakin
polar atau hidrofolik sediaan itu sebaliknya semakin rendah harga HLB maka
semakin nonpolar atau hidrofolik sediaan
tersebut. Sehinggan tween 80 larut dalam air dan span larut dalam minyak
(Ansel, 2010).
Setelah
itu dicampurkan kedua fase yaitu fase minyak dan fase air kedalam gelas kimia
dan dipanaskan diatas penangas air sampai
kedua larutan mendidih. Setelah mendidih kedua larutan dimasukkan kedalam mortir secara bersamaan lalu digerus dengan cepat selama kurang
lebih 5 menit, hal ini bertujuaan untuk menghomogenkan antara fase minyak dan
fase air (Jufri, 2004).
Pengamatan emulsi
dilakukan selama 20 menit, tujuannya untuk melihat pemisah antara fase air dan
minyak, dan perubahan volume emulsi. Dari hasil pengamatan selama pada
masing-masing emulsi dengan HLB butuh 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 terjadi
perubahan volume awal, volume sedimentasi, namun tidak terdapat volume pemisah.
Berdasarkan
literatur dapat diketahui bahwa HLB yang paling stabil dalam pembuatan emulsi
yaitu HLB 12. Namun, hal ini tidak sesuai dengan hasil percobaan dimana dalam
percobaan emulsi yang stabil yaitu emulsi dengan HLB 11. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa terjadi ketidak stabilan emulsi, pada percobaan ini
ketidakstabilan emulsi yang terjadi dalam percobaan ini yaitu demulsifikasi.
Demulsifikasi adalah proses lebih lanjut dari koalesen dimana kedua fase
terpisah kembali menjadi dua cairan yang tidak saling tercampur.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi ketidak stabilan dari emulsi diantaranya adalah : (Jufri, 2004)
· Suhu
pemanasan tidak konstan.
· Perbedaan
intensitas pengaduk.
· Pencampuran
kurang merata.
· Kekompakan
dan elastisitas film yang melindungi zat terdispersi.
· Ketidak
telitian dalam pengamatan kestabilan emulsi.
· Suhu
yang tidak sama dari kedua fase ketika dicampur, dimana kenaikan temperatur.
dapat mengurangi ketengangan antara muatan dan viskositasnya.
BAB VI
PENUTUP
6.1
Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat disimpulkan:
1.
Pada percobaan ini untuk fase air digunakan tween 80 dan aquadest. Sedangkan,
untuk fase minyak yaitu span 80 dan paraffin.
2.
Setelah dibandingkan hasil pengamatan dengan literatur
terdapat perbedaan pada literatur emulsi yang stabil yaitu HLB 12. Sedangkan,
pada percobaan yaitu HLB 11.
3.
Pada percobaan emulsi terjadi fenomena ketidakstabilan
dalam emulsi yaitu fenomena demulsifikasi.
6.2
Saran
Para praktikan harus berhati–hati dan teliti dalam
proses praktikum untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 1992 . Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Prees
Anief, Moh. 1987. Ilmu Meracik
Obat. Yogyakarta : gadjah Mada university
Press.
Dirgen POM. 1979. Farmakope
Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.
Jufri, M. 2004. Formulasi
Grameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi. Departemem
Farmasi FMIPA-UI. Depok.
Martin, Alfred dkk. 2008. Farmasi
Fisik Jilid 2. Jakarta : UI Press.
Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu resep.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Voight, R. 1971. Buku Pelajaran
Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar